Polisi Uganda Bubarkan Demonstran dengan Peluru Tajam

oleh
Demonstran membakar ban di jalanan kota Kampala, Uganda, 20 Agustus 2018. (Foto: AFP/STR)

Kampala: Kepolisian Uganda menembakkan peluru tajam dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan demonstran yang marah atas penangkapan dan dugaan penyiksaan terhadap beberapa politikus oposisi, termasuk bintang pop lokal dan kritikus pemerintah Bobi Wine.

Demonstrasi berlanjut di hari kedua di Kampala dan bagian lain negara itu pada Senin 20 Agustus 2018. 

Para demonstran membakar ban dan memblokade jalan, sehari setelah satu orang ditembak mati dan lima lainnya terluka dalam protes anti-pemerintah di kota Mityana.

Kerusuhan di negara Afrika Timur itu dimulai pekan lalu ketika lima anggota parlemen oposisi ditangkap di Uganda utara saat masa kampanye untuk pemilihan umum sela. Dua dari politikus itu diduga disiksa. 

Pengunjuk rasa menilai hal tersebut sebagai penindasan terhadap oposisi oleh pemerintahan Presiden Yoweri Museveni.

"Polisi dan militer maju, membubarkan unjuk rasa dengan tembakan dan gas air mata," lapor kantor berita Al Jazeera, Selasa 21 Agustus 2018. "Beberapa orang mengalami luka tembak dan terdengar suara tembakan gas air mata."

Demonstran menuntut pembebasan tokoh oposisi, termasuk Robert Kyagulanyi, seorang musisi populer yang menjadi anggota parlemen dengan nama panggung Bobi Wine.

Ketegangan politik meningkat pekan lalu setelah sopir Kyagulanyi ditembak mati di masa kampanye. Bintang pop itu merasa pemerintah berupaya membunuhnya.

Berkuasa sejak 1986, Museveni dituduh mengekang perbedaan pendapat melalui intimidasi, pemukulan, penahanan, dan penuntutan atas tuduhan palsu.