Peran Penting Pasien Hingga Tim Medis Dalam Mencegah Infeksi Luka Operasi di Indonesia

oleh

Surgical Site Infections (SSI) atau infeksi luka operasi yang terjadi di bekas sayatan operasi, nyatanya masih benar-benar menghantui para pasien dan tenaga medis di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Hal ini diperkuat dengan data yang ditunjukkan oleh WHO tahun 2016, bahwa ada sekitar 11 orang dari 100 pasien operasi yang berakhir pada infeksi luka operasi. Namun sebelum infeksi ini benar-benar terjadi, mungkin Anda bertanya-tanya adakah cara mencegah infeksi luka operasi ini?

Apa pemicu utama infeksi luka operasi?

Setelah menjalani proses operasi, pasti akan timbul luka di bagian tubuh tertentu akibat sayatan selama operasi berlangsung. Normalnya, luka bekas sayatan ini akan sembuh sendiri seiring berjalannya waktu. Namun, tidak demikian bila ada bakteri yang tumbuh pada luka operasi ini.

Ya, bakteri bisa datang kapan pun selama ada situasi dan kondisi yang mendukung. Umumnya, dibutuhkan waktu 30 hari mulai dari bakteri datang hingga luka berkembang menjadi infeksi. Tidak hanya sampai disitu, merokok, diabetes, dan berat badan berlebih juga bisa menjadi faktor risiko pendukung yang memperparah infeksi luka operasi atau SSI ini.

Berbagai prosedur operasi, mulai dari colorectal, gastrointestinal, jantung dan pembuluh darah, saraf, kulit, ortopedi, serta kandungan berisiko untuk menimbulkan SSI. Jika ini terjadi, tentu akan timbul bahaya serius bagi kesehatan tubuh yang dapat berujung pada kematian bila tidak segera ditangani.

Pencegahan SSI mengacu pada pedoman resmi

Berangkat dari sinilah, para pakar kesehatan dari World Health Organization (WHO), Centers for Disease Control (CDC) and American College of Surgeons (ACS) sepakat untuk mengeluarkan suatu panduan resmi (guideline) yang harus diterapkan di seluruh dunia guna mengatur secara khusus mengenai cara mencegah infeksi luka operasi atau SSI.

Panduan pencegahan infeksi luka operasi ini telah disusun sedemikian rupa sesuai jenis operasi, dengan beragam aturan yang berbeda untuk masing-masing prosedur operasi, disampaikan oleh Prof. Charles E. Edmiston, Jr., PhD., CIC, selaku ahli bedah dari Departemen Ilmu Bedah, Medical College of Wisconsin Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat, ketika ditemui dalam wawancara eksklusif yang diadakan oleh PT Johnson & Johnson Indonesia, di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat (21/8).

Singkatnya, prosedur operasi colorectal, gastrointestinal, jantung ortopedi, kulit, dan lain sebagainya, memiliki panduan yang berbeda-beda sesuai dengan organ tubuh yang ditangani dan prosedur saat menjalani pembedahan.

“Pedoman khusus SSI (surgical care bundle) belum ada 10 tahun yang lalu. Pedoman SSI bisa dibilang sebagai konsep baru di dunia kesehatan untuk menurunkan risiko SSI, karena melihat ada dampak cukup besar yang harus dihadapi oleh pasien serta pelayanan kesehatan bila nantinya timbul infeksi pada luka sayatan operasi.” ungkap Prof. Edmiston.

Siapa saja yang terlibat untuk mencegah infeksi luka operasi?

Sebagian besar pasien yang hendak menjalani operasi biasanya terlalu fokus pada pertanyaan berupa “Bagaimana proses pemulihannya?”, atau “Butuh waktu berapa lama sampai saya bisa sembuh total?”. Akhirnya, justru melewatkan pertanyaan yang sebenarnya penting, yakni seputar cara mencegah bahaya yang timbul sebelum, selama, atau setelah operasi berlangsung.

Pasalnya, tidak sedikit pasien yang berpikiran bahwa prosedur pencegahan ini hanya dilakukan oleh pihak pelayanan kesehatan dan tim medis saja, bukan untuk pasien. Padahal tidak demikian.

Dilansir dari laman CDC, sebagai pusat pengendalian penyakit di Amerika Serikat, baik pasien maupun tim medis sebenarnya memiliki peran masing-masing untuk mencegah infeksi luka operasi yang harus dilakukan sebelum, selama, dan setelah operasi.

Misalnya, tim medis harus mencuci tangan hingga ke bagian siku dengan bersih sebelum operasi dimulai, serta memenuhi pemberian dosis antibiotik yang tepat bagi pasien untuk beberapa kondisi tertentu bila memang diperlukan.

Selain itu, dr. Hari Paraton, SpOG(K), sebagai salah satu pembicara dalam simposium pencegahan SSI di RS Siloam Karawaci pada 20 Agustus 2018 lalu, menuturkan bahwa pedoman pencegahan SSI menganjurkan pasien untuk mandi dan membersihkan seluruh bagian tubuh guna mengurangi jumlah bakteri di permukaan kulit.

Pasien juga tidak diperbolehkan mencukur rambut di area tubuh yang akan dilakukan operasi, karena tindakan ini bisa mengiritasi kulit yang nantinya memudahkan perkembangan infeksi. Prof. Edmiston turut menambahkan bahwa benang yang saat ini digunakan untuk menjahit luka operasi harus berupa benang khusus yang telah dilapisi antiseptik dengan kandungan triclosan. Mengapa?

“Antiseptik lebih dipilih daripada antibiotik karena diyakini tidak akan menimbulkan resistensi pada bakteri”, ujarnya. Itu sebabnya, antiseptik dipercaya lebih aman daripada antibiotik untuk mencegah bakteri sekaligus menjaga kesehatan pasien selama dan setelah operasi.

Sebenarnya, kunci pencegahan SSI ada di tangan semua pihak

Tidak ada yang memegang tanggung jawab lebih besar untuk mencegah infeksi setelah operasi atau SSI. Dijelaskan lebih lanjut oleh Prof. Edmiston bahwa untuk mencegah infeksi luka operasi bukan semata-mata tugas tim medis saja. Melainkan satu kesatuan yang harus dipikul bersama oleh pasien, seluruh tenaga medis yang terlibat, serta pelayanan kesehatan.

Menurutnya, peran dari Kementrian Kesehatan RI juga dirasa penting untuk memantau keberjalanan proses operasi di seluruh pelayanan kesehatan di Indonesia.

“Sebelum melakukan operasi, sebaiknya pihak pelayanan kesehatan telah memiliki suatu pedoman khusus yang paling sesuai untuk pasien dan prosedur operasi yang akan dijalankan, sehingga dapat meminimalisir risiko SSI”, tutup Prof. Edmiston ketika ditanya mengenai cara mencegah infeksi luka operasi di Indonesia.

Artikel Peran Penting Pasien Hingga Tim Medis Dalam Mencegah Infeksi Luka Operasi di Indonesia Dipublish Oleh Hello Sehat.