Nilai Kontrak BP-Moya Rp250 M Per 6 Bulan

oleh -33 views

BATAM – Pundi-pundi Badan Pengusahaan (BP) Batam akan bertambah selama enam bulan, mulai 16 November 2020, dari kontrak kerjasama dengan PT Moya Indonesia. Di mana, pendapatan BP Batam dari kerjasama dengan PT Moya, sekitar Rp250 miliar sampai 300 miliar, selama enam bulan.

Anggota Bidang Pengusahaan BP Batam, Syahril Japarin mengungkapkan potensi pendapatan dari Moya Indonesia. Di mana, nilai kontrak dengan Moya, sekitar Rp550 sampai Rp600 miliar per tahun. Namun nilai pastinya akan ditentukan sesuai dengan jumlah penjualan air.

”Kontrak pelayanan tergantung jumlah air. Nilai kontrak sesuai terjual. Perkiraan Rp550 miliar sampai 600 miliar per tahun. Karena ini hanya 6 bulan, maka setengah dari situ,” ungkap Syahril.

Syahril optimis, pengelolaan air ditangan PT Moya, akan lebih baik. Sementara untuk sistem Scada yang menjadi andalan ATB selama ini, tidak dipermasalahkan, jika tidak diserahkan ke BP.

”Moya memiliki pengalaman lebih dari cukup untuk mengelola air Batam. Scada bukan satusatunya,” imbuhnya.

Sementara Kepala BP Batam, HM Rudi menjanjikan, walau pihaknya mendapat tambahan pendapatan dibanding saat air dikelola ATB, namun tidak ada kenaikan tarif. ”Tidak ada kenaikan tarif air. Variabel penghitungannya juga tetap,”tegas Rudi.

Pendapatan BP naik berlipat dari Moya, karena nantinya peralatan untuk pengelolaan dan distribusi air yang akan digunakan mereka, milik atau aset BP. Sementara ATB mengelola dan mendistribusikan air dengan asetnya, kecuali Dam.

”Sekarang, ATB menggunakan aset sendiri dan belum diserahkan ke BP. Nanti aset itu akan diserahkan ke BP. Itu jadi milik BP dan itu yang dipakai Moya. Jadi, Moya
nanti sudah menggunakan aset BP,” beber Rudi.

Ke depan, dalam memperkuat air di Batam, Rudi mengungkapkan rencana menambah waduk di Batam. Kemudian, akan bekerjasama dengan Lingga, untuk penyediaan air. Di mana, Lingga memiliki sumber air bersih yang lebih besar.

”Kita akan buat waduk baru. Akan kerjasama dengan Lingga. Kita akan MoU dengan Lingga,” bebernya.

Sementara sistem Scada yang enggan untuk diserahkan ATB, karena milik sendiri dan diluar perjanjian kerjasama, Chief Executive Officer PT Moya Indonesia, Mohammad Selim tidak mempermasalahkan. Diakui, pihaknya juga memiliki sistem tersendiri.

”Ada sistem kami juga, yang akan mulai kerjakan besok. Ada juga temanteman, yang sebelumnya di BP dan di ATB, akan mulai bekerja besok. Mereka akan membantu menyelesaikan persoalan kedepan,” harap Selim. (mbb)

Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *