Menguak Berbagai Faktor Risiko Penyebab Infeksi Luka Operasi di Indonesia

oleh

Setelah menjalani operasi pasti Anda berharap segera pulih dan sehat kembali. Operasi adalah tindakan medis yang ditujukan untuk memperbaiki jaringan dan mengobati suatu penyakit. Namun, tak jarang tindakan medis ini justru menyebabkan masalah lain yang cukup berbahaya bahkan mengancam nyawa pasien. Komplikasi setelah operasi yang mungkin terjadi adalah infeksi luka operasi.

Faktanya, infeksi luka operasi bukan hal yang sepele dan main-main. Jika dibiarkan, bahaya infeksi luka operasi dapat menimbulkan kelumpuhan bahkan dalam keadaan yang sangat parah bisa menyebabkan kematian. Lantas, apa yang menyebabkan infeksi pasca operasi?

Ada banyak bakteri yang menjadi penyebab infeksi luka operasi

Infeksi luka operasi (ILO) dalam dunia medis disebut dengan surgical site infection (SSI) yang diakibatkan karena bakteri tumbuh di area operasi.

Beberapa bakteri yang bisa menyebabkan infeksi di area operasi adalah E.coli, Klebsiella pneumonia, Pseudomonas A, MRSA, Enterobactereceace, Acinetobacter baumanii, dan masih banyak jenis bakteri lainnya.

Sebenarnya, ada banyak hal yang bisa menyebabkan kuman penyakit tumbuh dan berkembang pada luka operasi. Dari kebersihan diri pasien, higienitas para tim medis, ruang operasi dan ruang rawat inap, hingga perawatan luka pasca operasi.

Beberapa faktor utama yang menyebabkan tingginya angka infeksi luka operasi di Indonesia

Meski banyak hal yang bisa menyebabkan infeksi pada pasien setelah operasi, Prof Charles E. Edmiston, Jr., PhD., CIC, seorang ahli bedah dari Departemen Ilmu Bedah, Medical College of Wisconsin Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa ada tiga faktor utama yang mungkin bisa meningkatkan risiko infeksi pasca operasi.

“Kebiasaan merokok, diabetes, dan obesitas adalah faktor risiko SSI yang cukup sering terjadi. Bahkan ketiga faktor ini terjadi di Amerika Serikat maupun Indonesia.” ungkap Prof Charles E. Edmiston ketika ditemui dalam wawancara eksklusif yang diadakan oleh PT. Johnson & Johnson Indonesia, pada 21 agustus lalu.  

Beliau juga memperkirakan bahwa banyaknya orang yang menjadi perokok aktif menjadi salah satu faktor risiko utama tingginya jumlah infeksi pasca operasi di Indonesia. Apalagi, jika para perokok aktif tersebut memiliki faktor risiko lain seperti berat badan berlebih, mengalami diabetes atau penyakit kronis lainnya.

Kebiasaan merokok

Ada banyak dampak buruk yang terjadi ketika Anda merokok. Salah satunya, kandungan zat di dalam rokok dapat menyebabkan aliran darah tidak lancar hingga meningkatkan risiko penumpukan plak dalam pembuluh darah.

Saat aliran darah tak lancar, organ-organ tubuh tidak mendapatkan makanan dengan optimal. Padahal ketika ada bagian tubuh yang luka, bagian tersebut membutuhkan makanan dan nutrisi ekstra yang seharusnya didapatkan dari aliran darah.

Bila makanan dan nutrisi tidak didapatkan, luka akan lebih lama sembuh dan berisiko diserang berbagai bakteri.

Diabetes

Prof Charles E. Edmiston juga menjelaskan, “Tingginya kadar gula darah bisa menyebabkan pemulihan luka melambat. Kondisi ini yang membuat pasien dengan diabetes berisiko alami infeksi pasca operasi.”

Maka itu, pasien dengan diabetes harus diperhatikan dengan benar sebelum melakukan operasi Lihat apakah kadar gula darahnya saat itu stabil atau tidak.

Obesitas

Sementara itu, obesitas dapat menyebabkan aliran darah juga tak lancar akibat tumpukan lemak yang berlebihan. Aliran darah yang tidak optimal, akan menyebabkan bagian tubuh yang sedang luka jadi sulit sembuh dan memicu tumbuhnya bakteri.

Walaupun diperkirakan ketiga hal itu menjadi faktor utama yang membuat tingginya angka kejadian SSI di Indonesia, lagi-lagi Prof Charles E. Edmison, menekankan bahwa masalah ini melibatkan banyak faktor. Mulai dari kondisi pasien, tim medis, serta fasilitas dan pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Butuh perbaikan sana sini untuk mencegah infeksi luka operasi

Sementara  dr. Siusanto Hadi, SpB-KBD, dokter spesialis bedah (digestif) di RS Siloam Surabaya yang juga ditemui dalam wawancara eksklusif tersebut, menjelaskan “Personal hygiene pasien juga masih menjadi salah satu masalah yang harus diperbaiki supaya angka SSI tidak semakin meningkat.”

Karena itu, sebelum operasi pasien biasanya diminta untuk mandi dan membersihkan diri supaya tidak ada bakteri yang masih menempel sesaat sebelum operasi. Dengan begitu, risiko infeksi luka operasi akan menurun.

Menambahkan pernyataan tersebut, Prof Charles E. Edmiston mengungkapkan bahwa upaya pencegahan SSI harus dilakukan oleh banyak pihak dan melibatkan ilmu multidisiplin.

“Misalnya dari pemerintah yang diharapkan bisa meningkatkan pelayanan kesehatan di semua daerah serta pihak industri yang dapat membantu menemukan berbagai teknologi yang dapat mencegah pertumbuhan kuman penyakit saat operasi.” ucapnya ketika ditanya terkait pencegahan SSI di Indonesia.

Artikel Menguak Berbagai Faktor Risiko Penyebab Infeksi Luka Operasi di Indonesia Dipublish Oleh Hello Sehat.